Perjalanan baru-baru ini ke Chuck E. Cheese bersama balita saya mengungkap kebenaran yang meresahkan: hiburan yang tampaknya tidak berbahaya dapat memperkuat pola kekerasan yang berbahaya. Game arkade, yang dirancang untuk menghargai pengambilan gambar yang cepat dan berulang-ulang, tidak hanya menyenangkan; itu adalah latihan dalam dinamika kekuasaan. Kesadaran ini mencerminkan kenangan yang lebih meresahkan – menyaksikan anak-anak mengulangi trauma dunia nyata, seperti penggerebekan ICE, selama bermain drama.
Mengapa ini penting: Anak-anak belajar dengan meniru. Jika permainan mereka meniru agresi, hal itu mencerminkan kekerasan yang sudah menjadi hal yang normal di lingkungan mereka. Ini bukan tentang insiden-insiden yang terisolasi; ini adalah masalah sistemis.
Masalahnya bukan hanya karena senjata api merajalela di Amerika, namun paparan terhadap budaya senjata api dimulai sejak dini. Dari permainan arcade hingga senjata api tanpa pengaman di rumah, anak-anak dikondisikan untuk memandang kekerasan sebagai hiburan atau bagian rutin kehidupan. Vonis senilai $10 juta baru-baru ini terhadap sebuah distrik sekolah di Virginia setelah seorang anak berusia 6 tahun menembak seorang guru bukanlah hal yang aneh – ini adalah gejala dari kegagalan yang lebih dalam.
Perbedaannya dengan negara-negara lain sangat mencolok. Australia, setelah memperketat undang-undang kepemilikan senjata pasca penembakan massal, sudah hampir tiga dekade tidak terjadi insiden serupa lagi. Di AS, penembakan massal sangat sering terjadi hingga hampir tidak menjadi berita, dan di negara tersebut kini terdapat lebih dari 393 insiden pada tahun ini saja. Perbedaan ini bukan suatu kebetulan; itu adalah hasil dari pilihan kebijakan.
Siklus ini terus berlanjut karena peristiwa-peristiwa ini diperlakukan sebagai tragedi yang terpisah dan bukan sebagai konsekuensi yang saling berhubungan. Kekerasan yang disimulasikan dianggap tidak berbahaya, bahkan ketika kekerasan di dunia nyata meningkat. Orang tua dibiarkan menavigasi budaya di mana balita pun dihadapkan pada hiburan yang berhubungan dengan senjata.
Solusinya bukan hanya tentang undang-undang yang lebih ketat (walaupun hal ini penting). Ini tentang mengenali seberapa dini normalisasi kekerasan dimulai: di ruang bermain, arcade, dan mainan yang kita beli. Orang tua harus lebih kritis terhadap apa yang dikonsumsi dan dihargai oleh anak-anak mereka, memberikan perhatian tidak hanya pada nilai hiburan tetapi juga pada pelajaran yang diajarkan.
Sebelum Amerika bisa menghadapi masalah sistemik ini, Amerika akan tetap terjebak dalam siklus reaksi dan bukan pencegahan. Permasalahannya tidak terbatas pada ruang kelas atau kampus saja; itu tertanam dalam tatanan kehidupan Amerika.































